SANG RETARDASI MENTAL YANG BERJIWA SOSIAL

Retardasi mental adalah gangguan perkembangan otak yang ditandai dengan nilai IQ di bawah rata-rata orang normal dan kemampuan untuk melakukan keterampilan sehari-hari yang buruk. Retardasi mental juga dikenal dengan nama gangguan intelektual. Butuh waktu dan keterlibatan banyak pihak untuk membantu pasien retardasi mental beradaptasi dengan kondisinya.

Retardasi mental (RM) atau yang biasa disebut tunagrahita merupakan gangguan dalam perkembangan dimana terjadi gangguan dalam fungsi intelektual yang sub normal adanya perilaku adaptif sosial dan timbul pada masa perkembangan yaitu di bawah umur 18 tahun. Berdasarkan tingkatan dalam retardasi mental dapat dibagi menjadi empat kelompok retardasi mental di antaranya: retardasi mental ringan dengan taraf IQ 50-70, retardasi mental mental sedang dengan taraf IQ: 35-49, retardasi mental berat dengan taraf IQ: 20-34, retardasi mental sangat berat dengan taraf IQ kurang dari 20 (Hidayat, 2008). Di tempat penulis KKN yaitu Balai Rehabilitasi Terpadu Penyandang Disabilitas (BRTPD) yang beralamat di Pundong, Bantul, Yogyakarta juga diklasifikasikan seperti di atas, kurang lebih ada 30 anak RM dengan rentang umur 17 hinggan 40 tahunan.

Retardasi mental sendiri dapat disebabkan oleh gangguan kondisi otak yang dapat terjadi akibat beberapa faktor, di antaranya adalah:
• Cedera, misalnya karena kecelakaan lalu lintas atau saat berolahraga.
• Kelainan genetik, seperti down sindrom dan hipotiroidisme.
• Menderita penyakit yang memengaruhi fungsi otak, seperti infeksi pada otak (misalnya meningitis) atau tumor otak.
• Gangguan saat kehamilan, seperti kekurangan nutrisi selama hamil, infeksi, penggunaan obat, atau preeklamsia.
• Gangguan saat melahirkan, seperti kekurangan oksigen atau terlahir prematur.
Pada kasus tertentu, penyebab retardasi mental tidak diketahui secara pasti.

Di Balai Rehabilitasi Terpadu Penyandang Disabilitas (BRTPD), tempat penulis KKN, anak-anak RM dilatih untuk mandiri dan menjaga kebersihan diri. Secara tidak langsung kemandirian dan menjaga kebersihan diri saling berkaitan karena anak-anak RM dilatih melindungi diri, peduli terhadap teman-temannya, dan peduli akan aturan. Lalu untuk kebersihan diri meliputi kebersihan kulit, kebersihan tangan dan kaki, kebersihan mulut, kebersihan rambut, kebersihan mata, kebersihan telinga, dan kebersihan hidung.

Tidak hanya itu saja, anak-anak RM juga harus mandiri dalam urusan pakaian, pakaian yang mereka kenakan adalah tanggung jawab mereka sendiri jadi mereka harus mencuci, menjemur hingga melipat dan menyimpannya secara mandiri. Keterampilan tersebut dilakukan agar jika dirasa mereka sudah siap untuk kembali ke masyarakat, mereka mampu beradaptasi tanpa adanya masalah yang berarti. Hal tersebut menjadi penting ketika sudah bermasyarakat. Kita akan lebih mudah bergaul jika diri kita bersih karena sering kali masyarakat menolak untuk bergaul dengan masyarakat lain yang kotor, bau, dan tidak bisa merawat diri.

Banyak sekali pelajaran yang penulis dapatkan selama di Balai Rehabilitasi Terpadu Penyandang Disabilitas (BRTPD). Mulai dari menjaga kesehatan diri agar tidak memiliki anak yang kelainan genetik, menjadi mandiri, dan saling membantu. Aksi saling membantu ini yang sangat tertancap di kepala penulis. Karena meskipun anak RM memiliki kekurangan tetapi tidak lantas acuh terhadap lingkungan sekitar. Tanpa adanya permintaan minta tolong seakan anak RM disini saling membantu, misalnya saja anak RM dengan inisial AD, secara kasat mata dia memiliki proporsi tubuh yang normal, saat selesai sholat jumat, AD selalu kembali dengan mendorong kursi roda temannya, mengambilkan makan saat jam makan kepada temannya yang tidak bisa mengambil makan sendiri. Sebuah pemandangan yang indah. Seperti sudah otomatis begitu rasanya karena penulis sering melihatnya secara langsung dan perilaku itu yang langsung tertancap dalam ingatan penulis. Sungguh sebuah jiwa sosial anak retardasi mental yang menggugah jiwa penulis.

Profil singkat penulis :
Nama : Dita Purnama
TTL : Bantul, 9 Desember 1997
Motto : Where there is a will, where is a way


Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Kategori

%d bloggers like this: