Mengenal Dunia RUWI

Balai Rehabilitas Terpadu Penyandang Disabilitas (BRTPD) adalah lembaga yang bergerak dalam pemenuhan hak-hak penyandang disabilitas. Balai ini berada dibawah naungan dinas sosial dan pemerintah DIY. Adapun tugas dari BRTPD diantaranya melaksanakan perlindungan, rehabilitasi medis dan rehabilitasi sosial bagi penyandang disabilitas netra, daksa, rungu wicara, grahita, dan wredha. BRTPD memiliki tujuan membantu menumbuhkan kembali kepercayaan diri, harga diri, pengembangan potensi dan pemberdayaan penyandang disabilitas sehingga mampu melaksanakan fungsi sosial dan mandiri dalam tatanan kehidupan keluarga dan masyarakat.

Salah satu penyandang disabilitas di BRTPD adalah penyandang disabilitas rungu-wicara (RUWI). Penulis akan membahas lebih dalam mengenai RUWI di dalam artikel ini. RUWI adalah ketidakmampuan memproduksi suara dan berbahasa yang disebabkan kerusakan alat dan organ pendengaran sehingga anak tidak mengenal cara menggunakan organ berbicara dan tidak mengenal konsep berbahasa.

Faktor penyebab anak mengalami RUWI diantaranya:
• Sebelum anak dilahirkan (prenatal), contohnya: Faktor keturunan/hereditas. Centoh lainnya Ibu menderita sakit cacar air atau campak (rubella) pada saat mengandung, dan lain sebagainya.
• Saat dilahirkan (natal), contoh: anak yang lahir sebelum waktunya (prematur), anak yang lahir menggunakan alat bantu tang (forcep), dan lain sebagainya.
• Sesudah dilahirkan (prenatal), contohnya: terjadinya infeksi pada bagian organ pendengaran, peradangan diselaput otak (menginitis), dan lain sebagainya.

Pemberian rehabilitasi sosial terhadap penyandang disabilitas harus sesuai dengan permasalahan dan kebutuhannya. Secara fisik permasalahan penyandang disabilitas RUWI berkaitan dengan dua hal, yaitu (1) kelainan fungsi pendengaran akibat terjadinya kerusakan pada alat-alat pendengaran dan (2) ketidakmampuan memproduksi bunyi-bunyi bahasa pada saat mengekspresikan bahasa. Akibat adanya kondisi tersebut, penyandang disabilitas rungu wicara mempunyai beberapa masalah ketidakmampuan dalam mempersepsikan terhadap suatu objek, kesulitan dalam berbahasa/berkomunikasi, sulit dalam mengembangkan kecerdasan, mengalami masalah emosi, dan mengalami hambatan baik dalam pendidikan, pergaulan, maupun dalam memperoleh pekerjaan.

Penyandang disabilitas RUWI kurang mendapat dukungan dan layanan pemenuhan kebutuhan khususnya di lingkungan keluarganya. Banyak keluarga yang mempunyai anak penyandang disabilitas rungu wicara tidak memiliki pengetahuan dan kemampuan mengenai bagaimana cara mengasuh dan mendidik anak dengan disabilitas rungu wicara. Akibatnya anak mengalami keterlambatan dalam mengikuti pendidikan formal, mengalami hambatan dalam bergaul dan berkomunikasi dengan masyarakat, serta kurang memiliki kesempatan dalam mengakses berbagai pelayanan, rehabilitasi, pendidikan, dan fasilitas sosialnya.

Di sisi lain, lingkungan juga memperburuk kondisi penyandang disabilitas RUWI dengan adanya stigma negatif yang semakin menghambat kemampuan bahasa dan komunikasi. Cara komunikasi yang dilakukan dengan tangan atau suara-suara yang tidak lazim menyebabkan RUWI dianggap aneh dan menjadi bahan ejekan masyarakat di lingkungannya. Komunikasi dan relasi antara penyandang disabilitas RUWI dengan masyarakat normal menjadi terbatas, yang selanjutnya menempatkan mereka pada posisi marginal bahkan terisolir dari kehidupan masyarakat.
Setelah penulis melakukan proses observasi dan asesmen di BRTPD, teman-teman RUWI tetap menggunakan indera penglihatan dan pendengaran layaknya manusia pada umumnya dalam menerima pesan. Akan tetapi pada saat komunikator memberi pesan, teman-teman RUWI memjawab pesan melalui gerakan non-verbal seperti mimik, intonasi, atau gesture.

Menurut penulis, salah satu upaya agar penyandang disabilitas mendapatkan hak dan kewajiban dalam bernegara adalah dengan memberikan pendidikan bahasa sehingga mereka bisa melakukan komunikasi dengan lebih maksimal. Pendidikan bahasa tersebut mencakup pengenalan huruf abjad, pengenalan bahasa isyarat, huruf abjad dari A-Z, dan praktek komunikasi harian.

Pada saat KKN di BRTPD, penulis melakukan pelatihan gerakan sensorik. Pelatihan ini memberikan pengetahuan tentang huruf abjad dan bahasa isyarat agar penyandang disabilitas tuna rungu-wicara dapat berkomunikasi dan bersosialisasi dengan baik.

Kegiatan yang penulis lakukan selama KKN bertujuan memberikan perubahan terhadap penyandang disabilitas tuna rungu wicara (RUWI) di balai rehabilitas terpadu penyandang disabilitas (BRTPD). Mereka yang awalnya tidak berdaya menjadi berdaya, percaya diri, mandiri, berani dan mampu bersosialisasi dengan baik.

Profil singkat penulis :
Nama : Nawawi
Tetala : Pamekasan
Motto : Dunia ini sempit untuk terlalu serius, Maka bercandalah!


Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Kategori

%d bloggers like this: