MEMAAFKAN tapi TIDAK MELUPAKAN.

MEMAAFKAN tapi TIDAK MELUPAKAN. Mungkin statement itu terbalik. Salah satu kualitas Ingatan itu berkaitan dengan mood. Jadi, jika ingin mood bagus, bangkitkan lagi memory-memory tentang mood yang baik. Mengunjungi sahabat, makan makanan kesukaan dsb.


Ada teori Decay memory yang mengatakan bahwa ingatan lambat laun akan memudar seiring dengan berjalannya waktu karena keterbatasan kapasitas memory. Ada juga Interference memory bahwa ingatan itu akan tertumpuk, mudah juga terganggu/memudar karena aktivitas otak & stimulus yg terlalu banyak.

Kadang psikolog menyarankan klien patah hati untuk memiliki banyak kegiatan supaya 'lupa'. Sepele dan mungkin sulit dilakukan, tidak mudah tentu. Tapi begitu yang dipelajari ketika kita ingin memanipulasi otak.

 

Ada juga klien kritis yang bertanya 'tapi bukannya itu pelarian ya?'.Bukan pelarian, tapi mengurangi intensitas ingat,  bisa jadi perlahan hilang juga mood buruknya. Tapi tetap yang paling bagus adalah menyelesaikan masalah hingga ke akarnya. Supaya tidak terjadi UNFINISHED BUSSINESS.

Ketika otak lupa, tapi ternyata perasaan itu masih ada. Luka-luka batin seperti phobia, kecemasan, bipolar dsb. Ketika ditanya 'kamu punya masalah apa?' mereka akan menjawab 'aku tidak punya masalah apa2, aku baik-baik saja'.
Sebenarnya mereka bukan tidak memiliki masalah, tapi mereka lupa dengan masalahnya. Hingga alam bawah sadar membangun reaksi-reaksi fisik & mental utk mekanisme pertahanan diri secara berlebihan/kurang tepat dan terjadilah gangguan2 psikologis.

Lalu bagaimana dengan memaafkan dan lupa?

Kalau kita memaafkan, berarti akan lupa.
Ke titik NOL. tanpa ada unfinished bussiness.
Karna di titik MAAF paling tinggi, masalah tersebut sudah tidak ada.

(Dyah Putri Kinasih, S.Psi., MA. / Dosen STiPSi Jogja)
 

Alamat

Jalan Ngeksigondo No.60, Prenggan, Kotagede, Kota Yogyakarta, Daerah Istimewa Yogyakarta 55172
Tom Silver Building

Telepon : 08139-233-6060
Email : info@stipsi.ac.id